Bandara Internasional dan Harga Diri Bangsa

May 13th, 2009 | by MCA |

Mei 2007, saya mendarat di bandara Colombo dengan hati khawatir. Berita tentang keributan pemberontak Tamil Tiger benar-benar merisaukan. Seminggu sebelumnya, kelompok tersebut menjatuhkan bom tangan di Bandaranaike Airport. Saya sudah membayangkan counter imigrasi apa adanya, dengan petugas seram yang siap mengecek passport.

Namun perkiraan saya tidak sepenuhnya benar. Keluar dari perut pesawat, aroma wangi dan lantai keramik mengkilat langsung menyambut. Ikon-ikon budaya Singalese dan Tamil tampak jelas, menunjukkan saya berada di Colombo. Saat sampai di counter imigrasi, saya lebih surprise karena ada 2 kategori: Srilankan dan Foreigner. Tentu saja saya harus antri di barisan foreigner. Mengapa surprise? Karena di Bandara Soekarno Hatta (Soeta) saya tidak pernah disambut sebagai orang asli Indonesia. Arrival counter di Soeta tidak menyediakan antrian terpisah untuk WNI dan Non WNI.

Mengapa pemisahan antrian ini penting? Pertama, harga diri dan kebanggaan sebagai bangsa, sebagai penduduk lokal. Bayangkan saya harus berjejal-jejal dengan (maaf) orang asing di teras rumah sendiri. Ini bukan masalah rasisme atau humanisme, tapi sekali lagi: kebanggaan nasional. Kalau negara kecil dan kacau semacam Srilanka bisa melakukan, kenapa Indonesia sebagai bangsa besar tak bisa membuka 1-2 meja untuk warganya sendiri?

Kedua, efisiensi dan kecepatan. Seorang WNI akan dilayani lebih cepat karena passport penduduk asli menjamin mereka tidak perlu Visa. Saya harus mengantri cukup lama karena foreigner di depan saya harus diperiksa ini dan itu, terkait dengan status Visanya. Di Bandara Changi Singapore, saya bisa bergabung dengan antrian penduduk lokal Singaporean, meskipun status saya hanya pemegang Employment Pass. Pelayanan lebih cepat karena cukup scan IC tanpa cap passport.

Mari kita tengok negara yang lebih terbelakang, Bangladesh. Negara dengan GDP perkapita hanya $500 ini juga memisahkan antrian antara Bangladeshi dan foreigner. Jadilah saya gigit jari melihat para labour worker yang pulang kampung melaju mulus di antrian sebelah. Mengapa tak ada antrian “Indonesian Passport” di international arrival Bandara Soeta? Awal April lalu saat pulang kampung ke Jakarta, kondisinya belum berubah. Dibagian international departure memang sudah ada pemisahan, tetapi tidak di arrival.

Janganlah kita berteriak tentang nasionalisme atau kecintaan produk dalam negeri. Bahkan ketika pulang kampung, saya tidak disambut sebagai penduduk asli di teras Soekarno Hatta. Ini hal yang kecil dan mudah dilakukan, mengapa tidak?

  1. 6 Responses to “Bandara Internasional dan Harga Diri Bangsa”

  2. By dini on May 13, 2009 | Reply

    Setuju 1000% pak :)

  3. By yadisyahid on May 13, 2009 | Reply

    pemisahan sekarang sudah ada dengan deteksi thermal, kalau terdeteksi kena H1n1 langsung dipisahin mas…..hehehehe

  4. By MCA on May 13, 2009 | Reply

    @dini
    wah kalau 1000% malah nggak kejadian

    @yadi
    kalau kena virus C4D1 lansung dibooking hihihih

  5. By diyana on May 19, 2009 | Reply

    http://www.satupesan.com
    Kumpulan tutorial-tutorial online, and link popularity gratis di kerjakan para hacker, and lihat foto and vidio vidio–

  6. By Nia "sis in law" on May 21, 2009 | Reply

    Bulan Mei tahun 2008 ada kok antrian khusus foreigner… Si Matt ngantri disitu, tapi berhubung dengan sedikitnya jumlah foreigner dan turis malah antrian tsb lebih cepat lalu lintasnya… Nyatanya orang Indo yang keluar negri itu lebih banyak dari orang asing yang datang ke negri kita heheheeh… artinya orang Indo lumayan tajir and dari sudut foreigner mereka gak dtg karena gossip2 yang gak enak ttg Indonesia jd mereka malas dtg rupanya… Coba ke website consulate mana pun didunia Indonesia itu dimasukin WARNING list!!!

  7. By MCA on May 27, 2009 | Reply

    hi Nia,

    Thanks for the info.
    Kalau begitu antriannya dibikin begini saja:
    All Passport + Foreigner
    Indonesian Passport

    Jadi yg orang lokal bisa pindah-pindah semau gw :). Iya kenapa ya Indonesia selalu masuk warning list? Padahal asik-asik aja tuh :)

Post a Comment